the other side of story
By paKDhe on 12/24/09
merespon postingan balada tikus di blog sebelah. berikut adalah dari sudut pandang si tikus :)
---------
hai pembaca, namaku tiku. aku adalah seekor tikus yang imut. situ ndak percaya ? coba lihat badanku yang hitam. begitu juga bulu - buluku juga hitam. ndak salah kan kalo aku bilang imut alias item mutlak ? kalo pembaca ndak setuju ya terserah, kan ini alam demokrasi jadi kami sebagai tikus pun juga berhak berpendapat. ah ya, mungkin pembaca bertanya - tanya, apakah aku punya hubungan kerabat dengan remy dan emile, atau stuart, atau mungkin dengan jerry, atau mungkin dengan mickey. mungkin saja ada hubungan perkerabatan. tapi daripada disuruh membuktikan lewat test dna, atau dianggap menumpang tenar, ya lebih baik ndak usah ngaku2
sebagai tikus abege -segala protes harap disampaikan secara tertulis kepada pengarang cerita- tentunya aku juga seperti abege lain yang senang berjalan - jalan bersama temanku. sebut saja nama temanku adalah siti, nama lengkapnya adalah siti kus. ingin tau pengalaman terbaru kami sewaktu berjalan - jalan tourne alias raun - raun menyusuri kamar di bawah langit - langit rumah tempat kami tinggal? begini ceritanya.
suatu hari, siti temanku, mengajakku untuk berjalan - jalan. "tiku, sepertinya ruangan di bawah rumah kita ini menarik untuk dikunjungi", demikian kata siti suatu hari. "hhmmmm iya, beberapa kali aku mengintip. sepertinya ada banyak makanan di bawah, mahluk seram penghuninya juga jarang terlihat", demikian jawabku. "bagaimana kalau kita ke sana sekarang ? perutku sudah lapar, pizza dan spaghetti makan malam tadi kurang mengenyangkan", tambahku.
pelan - pelan kami merayap melalui lubang pada langit - langit rumah, melalui dinding anyaman bambu. sejenak kami mengintai situasi dari atas lemari yang penuh debu dan barang - barang tak terpakai. situasi aman terkendali, demikian istilah yang sering kami dengar. melalui celah antara dinding dan kemari, kami kembali turun menuju lantai ruangan sasaran kami. akhirnya sampailah kami di bawah lemari yang juga tidak kalah kotornya. debu, kertas, dan berbagai kotoran lainnya. bagi manusia kotoran memang harus dibersihkan, tapi bagi kami justru kotoran menjadi tempat yang aman dan menguntungkan jika kami harus bersembunyi dari kejaran manusia. "masih aman terkendali", kataku. kami berjalan lagi meninggalkan kolong lemari menuju pintu dari sebuah ruiangan. pintunya tertutup tetapi ada celah yang cukup lebar pada bagian bawahnya. sebagian celah tadi tertutup oleh keset, sebagian lagi tertutup sandal. seperti yang pembaca ketahui, kami bangsa tikus sangatlah ahli dalam tindakan penyusupan. halangan yang ada tidak menjadi masalah untuk kami menembus ruangan di balik pintu tadi.
akhirnya kami berada di dalam. hhmmmm ruangannya gelap, tapi kami sudah terbaiasa berada di tempat gelap. dengan penglihatan kami yang tajam ditambah dengan penciuman kami yang peka tidak sulit bagi kami untuk menemukan makanan yang tersembunyi di tempat gelap. kami berkeliaran ke sana ke mari, menjelajah mencari - cari makanan yang mungkin bergeletakan di tempat yang dapat kami jangkau. "ceklek..... kkrrrriiii....tttt", mendadak terdengar suara pintu terbuka. sejenak kami terkejut. "manusia ! lariii... !!!", demikian kataku pada siti. kami berlari berpencar menyelamatkan diri. siti bersembunyi di balik lemari plastik butut sdangkan aku bersembunyi dibalik onggokan pakaian yang belum dicuci. "uuuhhh, baunya kecut sekali, campur asem - asem ndak jelas", kataku dalam hati sambil menutup hidung. sesaat kemudian ruangan menjadi terang karena lampu yang dinyalakan oleh si manusia. "aduh mak.... untung ndak ketangkep", demikian pikirku. lama aku menunggu, hingga manusia tersebut menutup pintu kembali dan diam tak bergerak alias tidur menurut istilah bangsa manusia.
lama kuamati manusia tersebut dari balik tumpukan pakaian yang baunya aduhay sampai akhirnya kulihat dia diam tak bergerak. untunglah, aku sendiri sudah tidak tahan berdiam lama. perlahan aku merayap meninggalkan tempatku bersembunyi, demikian juga dengan siti. kami kembali bergerilnya mencari makanan. menyusup di antara kantong kresek, di antara buku - buku, di antara tumpukan barang - barang. kami tak menyadari sewaktu manusia tadi terbangun akibat aktivitas kami bergerilya. mendadak sebuah sapu terbang melayang, melesat secepat kilat, menuju ke arah kami. reflek, kami berkelit menghindar, sapu terbang tadi hanya mengenai bidang kosong yang cukup dekat dengan kami. "lariiii !!!", teriakku. sang manusia semakin kalap melemparkan benda - benda lain ke arah kami. sang manusia dengan jurus tangan seribu tingkat akhir dan jurus lemparan nyasar berhadapan dengan kami yang menggunakan jurus kelitan jambret dan tentu saja dipadukan jurus langkah seribu tingkat akhir. rupanya kami salah langkah sehingga terjebak di kolong lemari butut. mendadak terdengar suara gemuruh diikuti dengan debu - debu yang berhamburan. ternyata sang manusia sedang memukul - mukul lemari tempatku bersembunyi dengan jurus pukulan maut, berharap aku akan ketakutan dan keluar dari persembunyianku.
"hell no ! we won't go !", teriakku bertahan di sela sela debu yang beterbangan tak tentu arah.
kemudian sunyi senyap, sepertinya sang manusia sudah menyerah untuk memaksa kami pergi. untunglah dia tidak mengeluarkan jurus kuli pasar mengangkat lemari yang pernah diceritakan oleh para tetua tikus. konon jurus tersebut berhasil mengusir para tetua kami dari tempat tinggal kami sebelumnya dan melukai beberapa dari kami.
lama kami terdiam menunggu suasana aman. siti memberanikan diri untuk mengintip situasi. "sepertinya aman, pintu juga masih terbuka", katanya. perlahan - lahan siti mengendap - endap meninggalkan persembunyian dan kemudian berlari, menggunakan jurus copet dikejar massa, menuju ke arah pintu. sesat aku hendak keluar ketika kulihat manusia tadi bergerak. akupun mengurungkan niatku, sambil kembali menyusup ke kolong lemari. kuperhatikan manusia tadi menutup pintu dan menyisipkan beberapa penghalang pada celah di bawah pintu. "aduh mak.... gimana caranya keluar nanti ?", demikian pikirku. lama ku terdiam memperhatikan manusia tadi sambil menahan rasa lapar dan mendengarkan orkes keroncongan dalam perutku. waktu demi waktu berlalu, akupun ikut tertidur berteman rasa lapar di perut.
mendadak aku terbangun, mencoba mengingat - ingat di mana diriku. suasana masih gelap dan sunyi senyap. kupicingkan mataku, berusaha mencari keberadaan mahluk yang disebut sebagai manusia. kuedarkan pandangan ke sekeliling tapi tak kutemukan keberadaannya. "sudah aman rupanya", kataku dalam hati. aku berjalan menuju ke celah pintu dan berharap untuk segera kembali ke koloni kami, tempat yang lebih aman
. kutemukan celah tempat kami masuk sebelumya, ternyata celah tersebut menjadi lebih sempit dibanding sebelumnya. segala cara kuupayakan, segala macam jurus kukeluarkan. dari mulai jurus penyusupan ala kevin mitnick, jurus penjebol enigma, jurus penjebol purple code, sampai dengan segala ilmu yang kudapat dari defcon
. tidak ada satupun jurus yang berhasil mengeluarkanku dari tempat ini hanya karena permasalahan yang sederhana yaitu ukuran perutku yang memang sudah sangat montok. hmmm.... sepertinya aku harus berdiet dan fitness selama beberapa hari ini untuk mengecilkan ukuran perutku. akupun mengeluarkan jurus turun temurun para tikus di seluruh dunia yaitu jurus keratan gigi. kucoba mengerat berbaagai benda yang menghalangi jalanku keluar. lama aku mencoba, berpeluh - peluh aku mengeluarkan jurus tersebut tapi sepertinya sudah nasibku untuk tetap terkurung di sini. mungkin lebih baik kucoba nanti sahaja, siapa tau celah akan semakin bertambah lebar sewaktu manusia membuka pintu.
berteman dengan rasa lapar, ku tunggu waktu demi waktu sampai bosan aku menghitung detik demi detik. akhirnya tiba juga saat manusia membuka pintu. kuperhatikan dari tempatku manusia tadi berkeliaran di dalam ruangan, kulihat dia berbicara sendir sambil tersenyum2 sendirian. manusia memang aneh, mereka selalu berbicara sendiri dengan menempelkan sesuatu alat di telinganya. (catatan penulis : tikus emang ndeso, apa ndak tau kalo telepon sudah ditemukan sejak berpuluh2 taun yang lalu ?). akhirnya sang manusia pun kulihat tertidur. ntah mungkin tadi mendapat sms mesra dari seseorang atau sms naik gaji dari atasannya, sepertinya manusia itu tidur sambil tersenyum. (catatan sang tikus : dasar penulis ndak konsisten ! tadi katanya tikus ndeso ndak kenal telpon, tapi kok ngerti istilah sms ?)
kembali aku mengendap - ngendap ke arah celah di bawah pintu. aku berharap manusia tadi tidak terbangun karena aku sudah terlalu lemas untuk mengeluarkan jurus untuk menghindari jurus sapu maut menyambar yang mungkin akan dikeluarkan jika mendapati diriku masih berkeliaran di sini. kembali aku berusaha menyusup dari celah di bawah pintu. berbagai posisi kucoba, dari mulai tengkurap sampai telentang, bahkan jurus minak jinggo alias miring penak, njengking monggo ajaran dari suhu boyke yang menjadi senjata pamungkas masih belum juga berhasil. tanpa kusadari, ternyata manusia tadi terbangun akibat mendengar suara - suara dari aneka jurus maut yang kugunakan. "aaarrghhh..... gawat", jeritku dalam hati sambil berlari ke kolong lemari. untunglah manusia tadi tidak menghajarku dengan jurus - jurus mautnya, melainkan membuka pintu tadi dan sepertinya hendak membiarkan aku minggat jauh - jauh dari daerah kekuasaannya. aku teringat dengan nasehat dari tetua tikus untuk tidak mempercayai manusia. manusia adalah mahluk yang sangat kejam, jika manusia bisa tega untuk mencelakakan bangsanya, apalagi terhadap mahluk lain yng seperti kami. mahluk yang setiap hari mereka kejar - kejar untuk dibunuh. akupun kembali menunggu, mencari saat yang tepat untuk melarikan diri. aku mencoba tidak terpedaya oleh tindakannya yang pura - pura tertidur. masih dapat kulihat bola matanya yang berusaha mengintip dari celah - celah kelopak matanya. "kita liat siapa yang akan bertahan. aku atau kau !", kataku dalam hati.
perjuanganku membawa hasil, akhirnya kulihat dia tertidur. kuberanikan diri mengendap - endap di depannya. aku sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan jurus langkah seribu ataupun jurus copet dikejar masa untuk melarkan diri. akhirnya, aku sampai di pintu yang terbuka. kujentitkan pantatku dengan geyolan ala artis dangdut yang pernah kulihat di pasar malam untuk mengejek manusia yang tertidur tadi (catatan sang tikus : penulis yang aneh ! emangnya sejak kapan tikus seneng liat dangdutan ? sengaja merendahkan selera musik bangsa tikus cuih cuih cuih !). no pain no gain, no guts no glory, kiranya begitu pelajaran yang aku dapat dari kejadian ini.
---------
hai pembaca, namaku tiku. aku adalah seekor tikus yang imut. situ ndak percaya ? coba lihat badanku yang hitam. begitu juga bulu - buluku juga hitam. ndak salah kan kalo aku bilang imut alias item mutlak ? kalo pembaca ndak setuju ya terserah, kan ini alam demokrasi jadi kami sebagai tikus pun juga berhak berpendapat. ah ya, mungkin pembaca bertanya - tanya, apakah aku punya hubungan kerabat dengan remy dan emile, atau stuart, atau mungkin dengan jerry, atau mungkin dengan mickey. mungkin saja ada hubungan perkerabatan. tapi daripada disuruh membuktikan lewat test dna, atau dianggap menumpang tenar, ya lebih baik ndak usah ngaku2
sebagai tikus abege -segala protes harap disampaikan secara tertulis kepada pengarang cerita- tentunya aku juga seperti abege lain yang senang berjalan - jalan bersama temanku. sebut saja nama temanku adalah siti, nama lengkapnya adalah siti kus. ingin tau pengalaman terbaru kami sewaktu berjalan - jalan tourne alias raun - raun menyusuri kamar di bawah langit - langit rumah tempat kami tinggal? begini ceritanya.
suatu hari, siti temanku, mengajakku untuk berjalan - jalan. "tiku, sepertinya ruangan di bawah rumah kita ini menarik untuk dikunjungi", demikian kata siti suatu hari. "hhmmmm iya, beberapa kali aku mengintip. sepertinya ada banyak makanan di bawah, mahluk seram penghuninya juga jarang terlihat", demikian jawabku. "bagaimana kalau kita ke sana sekarang ? perutku sudah lapar, pizza dan spaghetti makan malam tadi kurang mengenyangkan", tambahku.
pelan - pelan kami merayap melalui lubang pada langit - langit rumah, melalui dinding anyaman bambu. sejenak kami mengintai situasi dari atas lemari yang penuh debu dan barang - barang tak terpakai. situasi aman terkendali, demikian istilah yang sering kami dengar. melalui celah antara dinding dan kemari, kami kembali turun menuju lantai ruangan sasaran kami. akhirnya sampailah kami di bawah lemari yang juga tidak kalah kotornya. debu, kertas, dan berbagai kotoran lainnya. bagi manusia kotoran memang harus dibersihkan, tapi bagi kami justru kotoran menjadi tempat yang aman dan menguntungkan jika kami harus bersembunyi dari kejaran manusia. "masih aman terkendali", kataku. kami berjalan lagi meninggalkan kolong lemari menuju pintu dari sebuah ruiangan. pintunya tertutup tetapi ada celah yang cukup lebar pada bagian bawahnya. sebagian celah tadi tertutup oleh keset, sebagian lagi tertutup sandal. seperti yang pembaca ketahui, kami bangsa tikus sangatlah ahli dalam tindakan penyusupan. halangan yang ada tidak menjadi masalah untuk kami menembus ruangan di balik pintu tadi.
akhirnya kami berada di dalam. hhmmmm ruangannya gelap, tapi kami sudah terbaiasa berada di tempat gelap. dengan penglihatan kami yang tajam ditambah dengan penciuman kami yang peka tidak sulit bagi kami untuk menemukan makanan yang tersembunyi di tempat gelap. kami berkeliaran ke sana ke mari, menjelajah mencari - cari makanan yang mungkin bergeletakan di tempat yang dapat kami jangkau. "ceklek..... kkrrrriiii....tttt", mendadak terdengar suara pintu terbuka. sejenak kami terkejut. "manusia ! lariii... !!!", demikian kataku pada siti. kami berlari berpencar menyelamatkan diri. siti bersembunyi di balik lemari plastik butut sdangkan aku bersembunyi dibalik onggokan pakaian yang belum dicuci. "uuuhhh, baunya kecut sekali, campur asem - asem ndak jelas", kataku dalam hati sambil menutup hidung. sesaat kemudian ruangan menjadi terang karena lampu yang dinyalakan oleh si manusia. "aduh mak.... untung ndak ketangkep", demikian pikirku. lama aku menunggu, hingga manusia tersebut menutup pintu kembali dan diam tak bergerak alias tidur menurut istilah bangsa manusia.
lama kuamati manusia tersebut dari balik tumpukan pakaian yang baunya aduhay sampai akhirnya kulihat dia diam tak bergerak. untunglah, aku sendiri sudah tidak tahan berdiam lama. perlahan aku merayap meninggalkan tempatku bersembunyi, demikian juga dengan siti. kami kembali bergerilnya mencari makanan. menyusup di antara kantong kresek, di antara buku - buku, di antara tumpukan barang - barang. kami tak menyadari sewaktu manusia tadi terbangun akibat aktivitas kami bergerilya. mendadak sebuah sapu terbang melayang, melesat secepat kilat, menuju ke arah kami. reflek, kami berkelit menghindar, sapu terbang tadi hanya mengenai bidang kosong yang cukup dekat dengan kami. "lariiii !!!", teriakku. sang manusia semakin kalap melemparkan benda - benda lain ke arah kami. sang manusia dengan jurus tangan seribu tingkat akhir dan jurus lemparan nyasar berhadapan dengan kami yang menggunakan jurus kelitan jambret dan tentu saja dipadukan jurus langkah seribu tingkat akhir. rupanya kami salah langkah sehingga terjebak di kolong lemari butut. mendadak terdengar suara gemuruh diikuti dengan debu - debu yang berhamburan. ternyata sang manusia sedang memukul - mukul lemari tempatku bersembunyi dengan jurus pukulan maut, berharap aku akan ketakutan dan keluar dari persembunyianku.
"hell no ! we won't go !", teriakku bertahan di sela sela debu yang beterbangan tak tentu arah.
kemudian sunyi senyap, sepertinya sang manusia sudah menyerah untuk memaksa kami pergi. untunglah dia tidak mengeluarkan jurus kuli pasar mengangkat lemari yang pernah diceritakan oleh para tetua tikus. konon jurus tersebut berhasil mengusir para tetua kami dari tempat tinggal kami sebelumnya dan melukai beberapa dari kami.
lama kami terdiam menunggu suasana aman. siti memberanikan diri untuk mengintip situasi. "sepertinya aman, pintu juga masih terbuka", katanya. perlahan - lahan siti mengendap - endap meninggalkan persembunyian dan kemudian berlari, menggunakan jurus copet dikejar massa, menuju ke arah pintu. sesat aku hendak keluar ketika kulihat manusia tadi bergerak. akupun mengurungkan niatku, sambil kembali menyusup ke kolong lemari. kuperhatikan manusia tadi menutup pintu dan menyisipkan beberapa penghalang pada celah di bawah pintu. "aduh mak.... gimana caranya keluar nanti ?", demikian pikirku. lama ku terdiam memperhatikan manusia tadi sambil menahan rasa lapar dan mendengarkan orkes keroncongan dalam perutku. waktu demi waktu berlalu, akupun ikut tertidur berteman rasa lapar di perut.
mendadak aku terbangun, mencoba mengingat - ingat di mana diriku. suasana masih gelap dan sunyi senyap. kupicingkan mataku, berusaha mencari keberadaan mahluk yang disebut sebagai manusia. kuedarkan pandangan ke sekeliling tapi tak kutemukan keberadaannya. "sudah aman rupanya", kataku dalam hati. aku berjalan menuju ke celah pintu dan berharap untuk segera kembali ke koloni kami, tempat yang lebih aman
. kutemukan celah tempat kami masuk sebelumya, ternyata celah tersebut menjadi lebih sempit dibanding sebelumnya. segala cara kuupayakan, segala macam jurus kukeluarkan. dari mulai jurus penyusupan ala kevin mitnick, jurus penjebol enigma, jurus penjebol purple code, sampai dengan segala ilmu yang kudapat dari defcon
. tidak ada satupun jurus yang berhasil mengeluarkanku dari tempat ini hanya karena permasalahan yang sederhana yaitu ukuran perutku yang memang sudah sangat montok. hmmm.... sepertinya aku harus berdiet dan fitness selama beberapa hari ini untuk mengecilkan ukuran perutku. akupun mengeluarkan jurus turun temurun para tikus di seluruh dunia yaitu jurus keratan gigi. kucoba mengerat berbaagai benda yang menghalangi jalanku keluar. lama aku mencoba, berpeluh - peluh aku mengeluarkan jurus tersebut tapi sepertinya sudah nasibku untuk tetap terkurung di sini. mungkin lebih baik kucoba nanti sahaja, siapa tau celah akan semakin bertambah lebar sewaktu manusia membuka pintu.
berteman dengan rasa lapar, ku tunggu waktu demi waktu sampai bosan aku menghitung detik demi detik. akhirnya tiba juga saat manusia membuka pintu. kuperhatikan dari tempatku manusia tadi berkeliaran di dalam ruangan, kulihat dia berbicara sendir sambil tersenyum2 sendirian. manusia memang aneh, mereka selalu berbicara sendiri dengan menempelkan sesuatu alat di telinganya. (catatan penulis : tikus emang ndeso, apa ndak tau kalo telepon sudah ditemukan sejak berpuluh2 taun yang lalu ?). akhirnya sang manusia pun kulihat tertidur. ntah mungkin tadi mendapat sms mesra dari seseorang atau sms naik gaji dari atasannya, sepertinya manusia itu tidur sambil tersenyum. (catatan sang tikus : dasar penulis ndak konsisten ! tadi katanya tikus ndeso ndak kenal telpon, tapi kok ngerti istilah sms ?)
kembali aku mengendap - ngendap ke arah celah di bawah pintu. aku berharap manusia tadi tidak terbangun karena aku sudah terlalu lemas untuk mengeluarkan jurus untuk menghindari jurus sapu maut menyambar yang mungkin akan dikeluarkan jika mendapati diriku masih berkeliaran di sini. kembali aku berusaha menyusup dari celah di bawah pintu. berbagai posisi kucoba, dari mulai tengkurap sampai telentang, bahkan jurus minak jinggo alias miring penak, njengking monggo ajaran dari suhu boyke yang menjadi senjata pamungkas masih belum juga berhasil. tanpa kusadari, ternyata manusia tadi terbangun akibat mendengar suara - suara dari aneka jurus maut yang kugunakan. "aaarrghhh..... gawat", jeritku dalam hati sambil berlari ke kolong lemari. untunglah manusia tadi tidak menghajarku dengan jurus - jurus mautnya, melainkan membuka pintu tadi dan sepertinya hendak membiarkan aku minggat jauh - jauh dari daerah kekuasaannya. aku teringat dengan nasehat dari tetua tikus untuk tidak mempercayai manusia. manusia adalah mahluk yang sangat kejam, jika manusia bisa tega untuk mencelakakan bangsanya, apalagi terhadap mahluk lain yng seperti kami. mahluk yang setiap hari mereka kejar - kejar untuk dibunuh. akupun kembali menunggu, mencari saat yang tepat untuk melarikan diri. aku mencoba tidak terpedaya oleh tindakannya yang pura - pura tertidur. masih dapat kulihat bola matanya yang berusaha mengintip dari celah - celah kelopak matanya. "kita liat siapa yang akan bertahan. aku atau kau !", kataku dalam hati.
perjuanganku membawa hasil, akhirnya kulihat dia tertidur. kuberanikan diri mengendap - endap di depannya. aku sudah terlalu lelah untuk mengeluarkan jurus langkah seribu ataupun jurus copet dikejar masa untuk melarkan diri. akhirnya, aku sampai di pintu yang terbuka. kujentitkan pantatku dengan geyolan ala artis dangdut yang pernah kulihat di pasar malam untuk mengejek manusia yang tertidur tadi (catatan sang tikus : penulis yang aneh ! emangnya sejak kapan tikus seneng liat dangdutan ? sengaja merendahkan selera musik bangsa tikus cuih cuih cuih !). no pain no gain, no guts no glory, kiranya begitu pelajaran yang aku dapat dari kejadian ini.
Links
About
Bolo Kurowo
Sorangan
|
|
This page produced with Insanely Simple Blog, which is licensed under the GPL.
Contact: pakdhe [at] pikun [dot] org.
Contact: pakdhe [at] pikun [dot] org.


