paKDhe soeKenThieR...
Logs :: Cerpen
cerita #2
By paKDhe on 12/26/09

"nenek, aku takut", kataku sambil mendekap nenekku.
"takut apa nak?", tanya nenekku sambil membelai rambutku.
aku diam tak menjawab, hanya semakin keras mendekapnya saat guntur menggelegar di luar sana. di malam gelap dan hujan deras seperti saat ini aku merasa paling nyaman berada dekat nenek. nenek memang sangat sayang padaku, cucunya yang paling kecil tapi paling nakal.
"hmmm.... kamu pasti takut dengan bunyi di luar sana", kata nenek sambil terus membelai rambutku.
"jangan takut nak. semua itu tidak akan mengganggumu.", tambahnya.
sejenak aku melepas dekapanku, memandangi wajahnya yang dipenuhi keriput. masih kupandangi wajahnya yang diterangi oleh samarnya cahaya lilin. kembali aku memeluknya saat terlihat kilat menyambar di luar sana. nenek tak berusaha melepaskan pelukanku seperti yang biasa dilakukan oleh bapak. malam itu akupun tertidur dalam belaian nenek.

"anak lelaki tidak boleh takut, tidak boleh cengeng.", demikian yang selalu ditekankan oleh bapak. ntah mengapa, aku sendiri lebih suka bersembunyi dan menangis jika ada yang menggangguku. aku tidak seperti kakakku yang cukup sering berkelahi jika ada teman yang mengganggu atau memperoloknya. pernah sekali waktu aku mencoba membalas saat seorang teman menggangguku. yang aku dapat hanyalah memar pada beberapa bagian tubuhku akibat dipukuli. bapak yang kuharap akan menghiburku malah berbalik memarahi karena aku berkelahi. saat itu kurasakan kedua orang tuaku sangat tidak adil. malam itu aku kembali membasahi bantalku dengan air mata dan kembali teringat dengan nenek.

"nak, tidak ada orang tua yang akan membenci anaknya. orang tua akan selalu menyanyangi anak yang telah dititipkan oleh yang kuasa", kata nenekku lembut. "mungkin kamu tidak pernah tau, tapi bapak dan juga ibumu, selalu berdoa untukmu. semoga kamu selalu diberikan keselamatan, dijauhkan dari bahaya, dari segala rintangan.", demikian nasehat yang diberikan nenek saat aku mengadu. aku menjadi tidak mengerti, mengapa nenek malah membela kedua orang tuaku yang bagiku saat itu terasa tidak pernah menyayangiku.

belasan tahun berselang, akupun bukan lagi seorang anak kecil yang sama seperti dulu. aku sudah berubah menjadi anak yang sering melawan nasehat orang tua. aku merasa bukanlah anak kecil yang selalu diam tertunduk jika dimarahi.
berbagai argumen selalu kugunakan sebagai amunisi untuk melawan perkataan orang tuaku, terutama perkataan bapak. tapi bagi nenek aku tetaplah seorang anak kecil yang belum mengerti dunia.
"nak, kamu tidak pernah sendirian di dunia ini. ada sang kuasa yang selalu berada di dekatmu. begitu juga dengan doa dari orang tuamu, doa dari kakek, nenek, saudaramu, dan semua orang yang menyayangimu. di saat kamu jauhpun, semua itu akan selalu menyertaimu. hmmmm.... suatu saat nanti kamu akan mengerti", demikian nasehatnya sewaktu aku mengadu karena merasa tidak ada yang pernah berpihak padaku. ntah kenapa akupun hanya bisa terdiam sambil memandang jauh ntah ke mana.

aku lelah, aku bosan. lelah menjadi seorang anak yang tidak pernah benar di mata orang tua. bosan dengan segala perbantahan yang tidak pernah membawa penyelesaian. aku memilih kesendirian menjadi pelarianku. hanya rajawali yang berani terbang tinggi walau sendiri, demikian sebuah goresan dari seorang budayawan yang menjadi inspirasiku dalam menjalani kesendirianku. rasa marah, rasa sedih kulampiaskan dengan menyendiri di gunung, di tengah hutan, di tengah alam bebas yang tak pernah menyalahkanku, yang tak pernah menghakimiku. dengan kesendirian di tengah alam luas pula mencari pembuktian, bahwa aku tidak penakut bahwa aku tidak cengeng seperti anggapan bapak.

"jadilah bulan nak.", kata nenek di suatu hari, "bulan itu menerangi kegelapan. berikan cahayamu untuk mereka yang dilanda kegelapan.". saat itu aku hanya mengangguk mengiyakan tanpa mampu memaknai semua itu. yang aku tau nenek hampir tidak pernah terlihat bersedih dalam keadaan apapun, bahkan saat kehilangan orang terdekatnya. di kemudian hari aku baru mampu memahami semua itu dari mbah mar, pemilik rumah yang biasa kujadikan tempat menginap jika menyepi di gunung. "orang kalo udah susah, ditambah pkiran dan mukanya butek, jadinya ya tambah susah. orang lain yang liat juga males deket - deket.", demikian katanya sambil mengaduk - aduk secangkir kopi yang kemudian disuguhkan kepadaku. "kalo tiap hari yang dipiikir susah terus ya nanti jadi penyakit, bisa cepet mati hehehe", tambahnya sambil tertawa kecil memperlihatkan giginya yang kemerahan akibat asap tembakau yang rajin dikonsumsinya.

malam ini, di tengah kesendirian, kembali kukenang semua itu. terima kasih, terima kasih, sekali lagi terima kasih atas semua pelajaran yang telah diberikan.....
Sections
Search Site

Color Scheme
Links

Bali Blogger Community
SysAdminDay
GolonganDarah.Net
Blood For Life
Links
Name:
Web URL:
Message:

This page produced with Insanely Simple Blog, which is licensed under the GPL.
Contact: pakdhe [at] pikun [dot] org.