paKDhe soeKenThieR...
Logs :: Cerpen
cerita #3
By paKDhe on 12/27/09
"jambunya mbak, blimbingnya mbak. murah lho mbak. pisangnya juga bagus mbak. diliat - liat dulu boleh mbak.", seorang ibu pedagang buah mengenakan topi caping memanggilku dan menawarkan dagangannya. berdiri di samping gerobaknya yang berwarna coklat kusam, dia tersenyum sambil melambaikan tangannya padaku. di satu bagian gerobaknya tersusun rapi setumpuk jambu merah bersebelahan dengan belimbing dewi, salah satu buah khas daerah depok yang terkenal manis dan bentuknya cukup besar. pada bagian atas gerobaknya, terdapat sebuah kayu melintang tempat digantungnya beberapa sisir pisang yang terlihat matang kekuningan.

mendadak aku teringat dengan yoga, anak kecil berumur 2 tahun yang tinggal di sebelah rumah petak sebelah, yang sangat menyukai buah belimbing. hmmm, tak ada salahnya aku membelikannya buah kesukaannya, apalagi selama ini ibunya cukup baik padaku
. sambil menenteng belanjaanku, kulangkahkan kaki melintas jalanan tanah yang becek tergenang air kecoklatan sisa hujan semalam. aku menghampiri ibu pedagang buah yang tersenyum menyambutku, mungkin aku akan menjadi peruntungan baginya di pagi hari ini. kuambil salah satu belimbing yang agak besar dan kurasa cukup matang.
"sekilo pinten bu ?", sengaja aku menanyakan harga per kilonya menggunakan bahasa jawa, berharap akan mendapatkan harga yang lebih murah dengan memanfaatkan sentimen kedaerahan.
"sekilo sembilan ribu saja mbak", jawabnya.
"murah lho mbak, kalo di tempat lain ndak dapet segitu", tambahnya.
"ndak bisa kurang ? enem ribu aja ya ? kan udah langganan", rayuku. sedikit berbohong tak apalah. walaupun aku sering berbelanja di pasar ini tapi aku tidak terlalu sering membeli buah pada ibu penjual yang satu ini. aku lebih sering membeli pada pedagang keliling yang terkadang lewat dekat rumah petak tempatku tinggal.
"wah, ndak bisa mbak. sekarang lagi ndak musimnya", jawabnya. hmmmm memang sekarang sudah hampir lewat musimnya, seandainya sekarang masih awal musim penghujan mungkin harganya akan lebih murah.
"sekarang apa - apa mahal mbak, gara - gara harga bensin naek. lha ini dari kulaknya juga udah mahal mbak", jelasnya mencari pembenaran.
"pas-nya brapa?", tanyaku lagi. "kalo ndak dikasi murah ya ndak jadi beli", aku berkata sambil berpura - pura akan pergi. sebuah trik lama yang sepertinya sudah basi, walaupun terkadang masih bisa digunakan sebagai senjata pamungkas dalam tawar menawar di pasar tradisional.

akhirnya akupun baru bisa mendapatkannya dengan harga yang menurutku sedikit lebih mahal. pikirku tak apalah sedikit lebih mahal, sesekali memberi lebih untuk mereka. mungkin aku bukan orang yang tega untuk menawar harga seperti yang selama ini diajarkan oleh ibuku. mungkin saja karena kami berasal dari keluarga yang pas - pasan, jadilah ibu harus bisa mengatur pengeluaran supaya kami bisa tetap bertahan sampai dengan tanggal 1 di bulan berikutnya. berbeda dengan keadaanku sekrang ini, gaji yang kudapat dari pekerjaanku sekarang ini lebih dari cukup untuk biaya hidup dan juga menabung. akupun menjadi lebih terbiasa berbelanja di pusat perbelanjaan yang menggunakan harga pas tanpa tawar menawar dibanding berbelanja di pasar tradisional. kalaupun aku berbelanja ke pasar tradisional, hanya untuk sekedar nostalgia dengan suasananya yang berbeda dan mencari jajan pasar yang biasa dibelikan ibuku jika aku ikut menemani ke pasar.
"gajimu kalo bisa ya diirit - irit", begitu nasehat ibuku pada suatu hari sewaktu aku menginap di rumah orang tuaku.
"beli sayur kok harganya segini, kalo di pasar kan ndak sampe segitu. di pasar itu sayurnya lebih seger, langsung turun dari petaninya. kalo di supermarket kan barangnya udah disimpen berhari - hari di kulkas. trus kamu beli, kamu simpen lagi berhari - hari di kulkas. kan jadinya tambah ndak seger", sambungnya lagi.
aku hanya tersenyum dan menjawab, "blanja juga cuma sebulan sekali kok bu. tiap hari kan makan di luar".
"lha ya itu, duitmu itu mesti diirit - irit, ditabung. kamu kan udah bisa masak sendiri di rumah. ndak usah beli makan di luar, masaknya kan banyak yang ndak bener. mosok nanti kalo kamu punya keluarga juga beli makan di luar", kata ibuku seakan - akan tak pernah kehabisan amunisi untuk mengkritik gaya hidupku yang berbeda dengannya.

"di pasar tradisional kita yang berbelanja dianggap orang, bukan dianggap mesin yang hanya diperlukan saat membayar di kasir", demikian yang pernah aku dengar. selintas aku teringat sewaktu ibu berbelanja pada pedagang langganannya. selama berbelanja mereka bisa ngobrol mengenai banyak hal, seakan - akan seperti keluarga dekat. tak jarang beberapa bumbu - bumbu dapur yang tidak terlalu mahal bisa didapat dengan cuma - cuma jika harga yang ditawarkan dirasa agak mahal dari biasanya, dapet imbuh demikian istilahnya. bertukar kabar antara pembeli dan pedagang bukanlah sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi. jika ada salah satu pedagang langganan yang tidak berjualan pasti ibu akan menanyakan pada pedagang yang bersebelahan. demikian juga sebaliknya jika ibu lama tidak berbelanja, pasti pedagang langganannya juga akan bertanya kabar jika bertemu ibu kembali. sesuatu hal yang tidak pernah didapatkan jika berbelanja di super market. akupun seperti terpengaruh dengan pendapat itu dan memulai "ritual" mingguan berbelanja di pasar tradisional dekat tempatku tinggal.


pagi itu, kurasakan kosong saat melintas di pinggir jalan yang biasanya dipenuhi pedagang kaki lima setiap pagi. ku arahkan pandanganku menatap pinggiran jalan yang menyisakan bekas - bekas lapak para pedagang kaki lima. "kemarin ada gusuran mbak, begitu kata supir kendaraan umum yang aku tumpangi. ntah mengapa aku merasa kehilangan.......
Sections
Search Site

Color Scheme
Links

Bali Blogger Community
SysAdminDay
GolonganDarah.Net
Blood For Life
Links
Name:
Web URL:
Message:

This page produced with Insanely Simple Blog, which is licensed under the GPL.
Contact: pakdhe [at] pikun [dot] org.